Taha
Di sebuah tempat pada malam hari yang cerah dan sejuk akibat rintik-rintik hujan yang turun ke bumi, tumbuhan dan hewan pun turut riang gembira menyambut turunnya rahmat dari Tuhan. Sembari menikmati camilan, mendengarkan nasihat dan pengetahuan dari ustadz tentang sebuah kisah Nabi Musa AS. Tentunya kalian tahu bahwa kisah nabi Musa sering sekali di ceritakan, bukan?, bahkan sejak saat kita kecil.
Allah SWT berfirman pada surat Taha ayat 9 & 10 - yang artinya :
"Dan apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?"
"Ketika dia (Musa), melihat api, lalu dia berkata kepada keluarganya, "Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu"
Lalu kemudian Nabi Musa menghampiri sumber cahaya tersebut, dan pada ayat 11 "Maka ketika dia mendatanginya ( ke tempat api itu) dia dipanggil. "Wahai Musa!", ayat ke-12 "Sungguh, aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa."
Kemudian ayat ke - 13 "Dan aku telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)". Ayat ke - 14 "Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku." Ayat ke - 15 "Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. " Ayat ke - 16 "Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa"
Pada ayat 9-16 ini, ketika permulaan Nabi Musa mendatangi sumber api tersebut, Allah memanggil Nabi Musa dan memilih ia sebagai Nabi-Nya untuk menyampaikan kabar kepada umatnya.
Kemudian pada ayat ke-17 "Dan apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?" kalau kita pikir, untuk apa Allah menanyakan hal tersebut, betul? sedangkan Allah maha mengetahui segala-galanya. Menurut para ulama tafsir, ayat tersebut bermakna agar kedekatan Allah dengan Nabi Musa terasa sangat personal dengan menanyakan tongkat yang biasa Nabi Musa bawa.
Setelah itu, Nabi Musa AS menjelaskan tongkat yang biasa ia bawa, pada ayat 16 surat Taha, tongkat tersebut biasa ia gunakan untuk bertumpu, merontokkan daun-daun untuk makanan kambingnya. Kemudian Nabi Musa diperintahkan untuk melempar tongkatnya tersebut seperti yang termaktub dalam ayat ke -19 surat Taha. Kemudian tongkat tersebut berubah menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat, lalu Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Musa untuk memegangnya dan jangan takut karna akan dikembalikannya seperti semula.
Dari kisah pada surat Taha ini, kita belajar tentang "sami'na wa athana" seorang Nabi Musa kepada perintah Allah. Tanpa banyak bertanya-tanya ketika Allah menyuruhnya untuk melempar tongkatnya dan mengambilnya kembali. Keberanian Nabi Musa untuk memegang tongkatnya yang telah berubah menjadi ular juga patut menjadi sebuah sikap bagi kita seorang muslim untuk selalu senantiasa menjadi seorang pemberani.
Sebuah kisah yang kita dapat teladani dari seorang Nabi Musa AS dan menjadi pedoman kita dalam berkehidupan sehari-hari.
Komentar
Posting Komentar